About: Society is an academic journal published by Universitas Bangka Belitung. The journal publishes majorly in the area(s): Nonprobability sampling & Internal audit. It has an ISSN identifier of 2338-6932. It is also open access. Over the lifetime, 4 publications have been published receiving 3 citations. The journal is also known as: societies & Society.
TL;DR: In this paper, the authors investigated how the people of Nagari Batu Payuang produce aia niro and tuak, their motives for buying, selling, and consuming the drink, and judging it from the perspective of Islamic law (hadd al-syurb).
Abstract: In Islamic law, khamr is a common type of alcoholic beverage that is forbidden for consumption due to its elements that can intoxicate and lead to loss of self-control. The government of Indonesia also forbids people from consuming the intoxicating beverage in certain levels. Nevertheless, a community group in Batu Payuang Halaban, Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra Province, Indonesia, wherein their daily lives can be found a type of traditional beverage as same as khamr that is a fermented juice of sugar palm bunches. The people call it “tuak”. This research aims to investigate how the people of Nagari Batu Payuang produce aia niro and tuak, their motives for buying, selling, and consuming the drink, and judging it from the perspective of Islamic law (hadd al-syurb). This type of research is field research with a qualitative approach. Data sources consisted of primary and secondary. The data collection was conducted by observing the process of producing aia niro, tuak, and the transaction, and in-depth interviews with owners of sugar palm plantation, tuak producers, buyers, sellers, consumers, and local ulama (Islamic scholars). The data were analyzed in descriptive by reduction, display, and verification. To examine this research, the theory used was the concept of hadd al-syurb in Islamic law and the regulation on alcoholic beverages in Indonesia. The results show that aia niro is produced by extracting the bunches of male sugar palm and it is the raw material to produce tuak by leaving the aia niro in jerry cans and adding agarwood bark for 3 days. The sellers have various reasons to sell tuak and its raw materials. Besides the price is higher than brown sugar, it is also motivated by personal and other economic reasons as well as easier processing. People who drink tuak realize that it is intoxicating in a certain amount but they drink it to warm their bodies and relieve their fatigues. In the concept of hadd al-syurb, consuming tuak as an intoxicating substance is haram (forbidden) and is condemned to those who drink it. However, they who trade it are not punished by hudud since the Sunna proposition only refers to the transaction as an act of curse.
TL;DR: Desa Candinegoro terletak di Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, pengunjung dari Desa, salah satunya pengembangan dalam aspek sentra kuliner.
Abstract: Desa Candinegoro terletak di Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Desa tersebut memiliki situs candi bercorak Hindu yakni Candi Dermo yang merupakan peninggalan pada Masa Kerajaan Majapahit, Wangsa Hayam Wuruk yang berdiri pada tahun 1953. Terkait dengan usaha Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam mengembangkan Desa Candinegoro menjadi Desa Wisata, diperlukan beberapa perencanaan pengembangan desa, salah satunya pengembangan dalam aspek sentra kuliner. Candi Dermo saat ini cukup menarik minat pengunjung dimana rata-rata pengunjung mencapai 90-125 orang tiap bulannya. Jumlah pengunjung ini cukup kecil dibandingkan dengan pengunjung dari Candi lainnya di Indonesia. Candinegoro sudah memiliki area kuliner yang berada di tepi sungai sebelah utara Jalan Kemasan, Desa Candinegoro sepanjang 200 m. Namun lokasi wisata kuliner ini kurang tertata dengan baik sehingga kurang menarik pengunjung dalam berwisata kuliner di tempat tersebut. Kurang lengkapnya sarana dan prasarana yang ada pada pusat kuliner tersebut menyebabkan warga kurang tertarik untuk berwisata di area tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan perancangan desain sentra kuliner yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan dalam realisasi pengembangan sentra kuliner.
TL;DR: In this article, a subjek kegiatan ini yaitu semua masyarakat dengan kriteria usia lebih dari 18 tahun and tidak memiliki riwayat penyakit penyerta.
Abstract: Kondisi pandemi covid-19 yang belum berakhir dan pesatnya penyebarannya perlu melakukan upaya-upaya dalam menanganinya. Selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat, salah satu cara lain yang sangat mungkin untuk mencegah penyebaran virus ini adalah dengan melakukan vaksinasi. Sehubungan itu maka pengabdian kepada masyarakat digerakkan dosen pada mahasiswa Kebidanan STIKES PEMKAB JOMBANG yang bersedia untuk membantu petugas vaksinator Covid19. Pengabdian masyarakat bertujuan agar mahasiswa ikut terlibat sebagai vaksinator dan berkontribusi secara langsung dalam upaya percepatan vaksinasi Covid19. Subjek kegiatan ini yaitu semua masyarakat dengan kriteria usia lebih dari 18 tahun dan tidak memiliki riwayat penyakit penyerta. Kegiatan vaksinasi bertempat di balai desa wilayah Puskesmas Cukir. Diantaranya di balai desa Grogol, Puton, dan Bandung. Setiap harinya sebelum kegiatan dimulai mahasiswa akan mendapat pengarahan dulu kemudian ditugaskan untuk membantu vaksinator di meja skrining untuk melakukan pengecekan tekanan darah dan suhu tubuh serta bertindak sebagai tenaga vaksinator. Diharapakan pengabdian masyarakat serupa dapat dijalankan di berbagai wilayah sehingga kontribusi mahasiswa kesehatan dalam masa pandemi dapat diimplementasikan. Sinergi antara mahasiswa, masyarakat, akademisi, dan pemerintah sangat diperlukan agar pandemi covid-19 ini segera berakhir.
TL;DR: Desa Slahung merupakan salah satu desa di Kabupaten Ponorogo as mentioned in this paper, lebih dari 66,65% berupa perbukitan/pegunungan dengan kemiringan antara 30-85 derajat.
Abstract: Desa Slahung merupakan salah satu desa di Kabupaten Ponorogo yang wilayahnya lebih dari 66,65% berupa perbukitan/pegunungan dengan kemiringan antara 30–85 derajat. Dengan kondisi geografi tersebut, wilayah ini dikategorikan sebagai desa yang rawan terhadap bencana longsor. Bencana longsor terakhir kali terjadi pada bulan februari – maret 2018 yang mengakibatkan satu rumah rusah berat dan 20 rumah rusak ringan serta 141 penduduk harus mengungsi. Ancaman bencana longsor saat ini semakin besar terjadi seiring pemanfaatan lahan yang tidak optimal. Hutan-hutan rakyat berubah menjadi lahan pertanian yang memanfaatkan lereng-lereng. Selain itu sistem drainase permukaan tanah yang kurang baik sehingga seluruh air hujan maupun limbah rumah tangga tidak terserap optimal. Kondisi ini diperparah dengan penataan pemukiman yang buruk. Warga masyarakat tidak mempertimbangkan kemiringan lahan, retakan, maupun jalur aliran air ketika membangun rumah. Mereka hanya berorientasi pada pembangunan tempat tinggal dengan memanfaatkan lahan yang ada. Tujuan dari program ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang potensi bencana yang bisa terjadi, upaya yang harus dilakukan untuk menghindari jatuhnya banyak korban jiwa maupun harta benda serta pengenalan jalur evakuasi sekaligus melakukan praktek evakuasi apabila sewaktu-waktu bencana akan terjadi.
TL;DR: This systematic literature review synthesizes 38 studies to evaluate Pakistan's vocational education policies, revealing barriers and advocating for experiential learning, inclusive policies, and strategic investments in digital infrastructure to modernize TVET and align with Industry 4.0.
Abstract: Skill development is pivotal to Pakistan’s economic and social transformation, addressing human capital challenges. This systematic literature review synthesizes findings from 38 peer-reviewed studies conducted between 2015 and 2024 to evaluate Pakistan’s existing policies and practices. Findings reveal myriad barriers in Pakistan’s vocational education ecosystem, including outdated curricula, weak industry-academia collaboration, and governance inefficiencies, disproportionately affecting vulnerable rural populations. Programs like the National Skills Strategy (NSS) and Punjab Skills Development Fund (PSDF) aim to align education with labor market demands, but financial constraints and governance inefficiencies hinder implementation. Due to infrastructural inadequacies, digital literacy and entrepreneurial education programs face implementation challenges. The study advocates for experiential learning modalities and inclusive policies to dismantle socio-cultural barriers. Comparisons with global models such as Germany’s dual education system and Singapore’s SkillsFuture initiative illustrate opportunities to modernize Pakistan’s TVET (Technical and Vocational Education and Training) framework. Policy recommendations emphasize the need for strategic investments in digital infrastructure to modernize curricula, foster industry partnerships, and integrate cutting-edge technologies aligning TVET with Industry 4.0, fostering public-private partnerships, and promoting gender-inclusive strategies to enhance workforce readiness and economic competitiveness. These reforms align with Sustainable Development Goals (SDGs) 4 and 8, offering a pathway for Pakistan to enhance workforce readiness, foster economic competitiveness, and promote equitable socioeconomic development.