About: Miqot is an academic journal published by State Islamic University of North Sumatra. The journal publishes majorly in the area(s): Islam & Computer science. It has an ISSN identifier of 0852-0720. It is also open access. Over the lifetime, 28 publications have been published receiving 3 citations. The journal is also known as: Majalah ilmu pengetahuan & pembangunan & Jurnal ilmu-ilmu keislaman.
TL;DR: In this article , the framework of inheritance provisions for biological children and adopted children in three different countries, namely Turkey, Saudi Arabia, and Indonesia, was explored, where the reinterpretation of children's inheritance rights in society today demonstrates the increasing response to social context vis a vis religious text.
Abstract: Abstract: This paper explores the framework of inheritance provisions for biological children and adopted children in three different countries, namely Turkey, Saudi Arabia, and Indonesia. The reinterpretation of children's inheritance rights in society today demonstrates the increasing response to social context vis a vis religious text. Turkey and Indonesia share an emphasis on social dimension in reinterpreting children's inheritance rights for men and women portions. Saudi Arabia, however, is remained to adopt conservative approach in interpreting the religious texts wherein men’s share twice as much as women. This research is a normative (doctrinal) approach in comparing legal issues on inheritance exercised in three countries. The data are based on literature such as regulation, books, journals, and related articles. This paper argues that socio-cultural conditions, political dynamics and ideological mainstream shape the nature of law in each country. Abstrak: Tulisan ini menggali pengembangan ketentuan kewarisan anak kandung dan anak angkat di tiga negara yaitu Turki, Saudi Arabia dan Indonesia. Reinterpretasi hak waris anak dari negara-negara yang menjadi objek riset ini menunjukkan bahwa aspek social dan keagamaan menjadi bagian poin dalam menempatkan hak anak yang diambil dari teks keagamaan. Turki dan Indonesia cenderung melihat aspek social menjadi penafsiran ulang terhadap hak waris anak, dimana laki-laki dan perempuan di Turki mendapat porsi sama. Sedangkan di Indonesia, hak anak angkat diposisikan secara social dengan mendapat wasiat wajibah. Saudi Arabia, pada sisi lain, cenderung konservatif dengan menafsirkan ayat-ayat waris bagi anak laki-laki dan perempuan secara literal. Penelitian ini ialah penelitian normatif dengan pendekatan Perundang-Undangandan pendekatan Komparatif. Sumber-sumber kajian riset ini yaitu berupa peraturan perundangan, buku, jurnal dan artikel terkait. Paper ini menyimpulkan bahwa perubahan hukum di tiap negara berhubungan erat dengan kondisi social budaya, dinamika politik dan ideologi yang berkembang. Keywords: inheritance of biological children, adopted children, turkey, Saudi Arabia, Indonesia
TL;DR: In this article , the meaning of wasathiyyah in the book al-Quran al-Karim and Terjemahan Bebas Bersajak is examined in Bahasa Aceh.
Abstract: Abstract: This article aims to examine the meaning of wasathiyyah in the book al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. The research is qualitative and documentation as a data collection technique. The result of the research is that the author of this book gives varied meanings with the word wasatha. Among them the meaning of this word: saban (same), sama teungoh (same in the middle), seudang (middle). Wasathiyyah covers aspects of worship, mu‘âmalah, ethics and so on. In terms of worship, levels, models and times are given guidance in the Shari‘ah. In the aspect of mu‘âmalah, this concept regulates how to communicate, time and how to interact. In terms of ethics, this wasathiyyah becomes a role model in attitude and behavior.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menelaah pemaknaan wasathiyyah dalam kitab al-Quran al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh. Padanan yang kata dipakai pengarang dengan mempertimbangkan bait sajak menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian bersifat kualitatif dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian adalah pengarang kitab ini memberikan makna yang variatif dengan lafaz wasatha. Di antaranya makna lafaz ini: saban (sama), sama teungoh (sama di pertengahan), seudang (pertengahan). Wasathiyyah mencakup aspek ibadah, muamalah, etika dan seterusnya. Dalam hal ibadah, kadar, model dan waktu itu diberikan tuntunan dalam syariat. Dalam aspek muamalah, konsep ini mengatur cara berkomunikasi, waktu dan bagaimana interaksi. Dalam hal etika, wasathiyyah ini menjadi role model dalam bersikap dan bertingkah laku.Keywords: meaning, wasathiyyah, book of Mahjiddin Jusuf, life
TL;DR: In this paper , the authors analyzed the considerations of judges in deciding two divorce cases due to apostasy claims including Case Number 14/Pdt.G/2019/PA.G.Bitg in fâsakh and Case Number 17/pdtg in ṭalâq ba'in sughra through the consideration of subsidiary petitum.
Abstract: Abstract: This study aims to analyze the considerations of judges in deciding two divorce cases due to apostasy claims including Case Number 14/Pdt.G/2019/PA.Bitg and 17/Pdt.G/2019/PA.Bitg at the Bitung Religious Court, Bitung City, North Sulawesi, Indonesia. It was conducted qualitatively through a descriptive-comparative approach with primary data obtained from informants including four judges using observation, in-depth interviews, and documentation techniques, subsequently analyzed using an inductive analysis model. Meanwhile, secondary data were retrieved from decision documents. The results showed that the judge decided Case Number 14/Pdt.G/2019/PA.Bitg in fâsakh and Case Number 17/Pdt.G/2019/PA.Bitg in ṭalâq ba‘in sughra through the consideration of the subsidiary petitum. These decisions were observed to have legal consequences on hadhânah and the right of mutual inheritance between children and parents. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam memutuskan dua perkara perceraian dengan gugatan murtad, yakni Perkara No. 14/Pdt.G/2019/PA.Bitg dan 17/Pdt.G/2019/PA.Bitg di Pengadilan Agama Bitung Pengadilan, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Indonesia. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui pendekatan deskriptif-komparatif dengan data primer diperoleh dari informan meliputi empat orang hakim dengan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, selanjutnya dianalisis menggunakan model analisis induktif. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim dalam memutuskan dua perkara perceraian dengan gugatan murtad berdasarkan pada alat bukti dimana Perkara No. 14/Pdt.G/2019/PA.Bitg diputuskan secara fâsakh dan Perkara No. 17/Pdt.G/2019/PA.Bitg diputuskan secara ṭalâq ba’in sughra dengan menggunakan pertimbangan petitum subsider. Kedua putusan tersebut berakibat hukum pada hadhânah dan hak saling waris antara anak dan orang tua. Keywords: judge's consideration, divorce, apostasy, marriage fasâkh, ṭalâq ba'in sughra
TL;DR: In this paper , the authors used a historical approach by utilizing study materials from historical literature to compile historical facts guided by a logical framework arrangement according to chronological order, and concluded that thanks to the wealth and social forces empowered by Muslim communities in various places in the archipelago, they can play political roles in political entities as evidenced by the birth of a number of Sultanates.
Abstract: <p><strong>Abstract:</strong> The increasing influence of Islam in the archipelago was marked by the establishment of a number of sultanates. Based on the fact of the significant existence of the sultanate it is may indicate as evidence of political power. In the footsteps of Islam Nusantara, political power was achieved after great successes in building economic power, education, cultural-intellectual networks. Therefore, the stage of the traces of Islam Nusantara is not an event that is considered strange. Until the 17th century AD, there were even a number of sultanates on the islands of Java, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, and Nusa Tenggara. The spread of the existence of a number of these sultanates in a relay as evidence of the results of the exemplary performances of a number of sultanates that had existed before. The approach used in this paper is a historical approach by utilizing study materials from historical literature. In compiling historical facts, it is guided by a logical framework arrangement according to chronological order. The conclusion is that, thanks to the wealth and social forces empowered by Muslim communities in various places in the archipelago, they can play political roles in political entities as evidenced by the birth of a number of Sultanates. This historical fact, at least strengthens Anthony Reid's theory, that the maritime economy is an indicator of maritime trade that unites trade routes with the formation of port cities as international trade routes.<br /><strong></strong></p><p><strong>Keywords:</strong> empowerment, trade, maritime, Islamic Sultanate in the archipelago<br /><strong></strong></p><p><strong>Abstrak</strong>: Pengaruh Islam yang semakin signifikan di Nusantara ditandai dengan berdirinya sejumlah kesultanan. Sudah saatnya keberadaan kesultanan dimaknai sebagai bukti kekuatan politik. Dalam jejak Islam Nusantara, kekuatan politik diraih setelah sukses besar membangun kekuatan ekonomi, pendidikan, jaringan budaya-intelektual. Karena itu, pentas jejak-jejak Islam Nusantara bukanlah peristiwa yang dianggap aneh. Hingga abad ke-17 M, bahkan ada sejumlah kesultanan di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Tersebarnya keberadaan sejumlah kesultanan ini secara estafet sebagai bukti hasil pertunjukan keteladanan sejumlah kesultanan yang telah ada sebelumnya. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan sejarah dengan memanfaatkan bahan kajian dari literatur sejarah. Dalam menyusun fakta sejarah berpedoman pada susunan kerangka logis menurut urutan kronologis. Kesimpulannya, berkat kekayaan dan kekuatan sosial yang diberdayakan oleh komunitas Muslim di berbagai tempat di Nusantara, mereka dapat memainkan peran politik dalam entitas politik yang dibuktikan dengan lahirnya sejumlah kesultanan. Fakta sejarah ini, setidaknya memperkuat teori Anthony Reid, bahwa ekonomi maritim merupakan indikator perdagangan maritim yang menyatukan jalur perdagangan dengan terbentuknya kota-kota pelabuhan sebagai jalur perdagangan internasional.<br /><strong></strong></p><p><strong>Kata Kunci</strong>: pemberdayaan, perdagangan, maritim, Kesultanan Islam di Nusantara</p>
TL;DR: In this paper , the authors used the maudhu'i method with structural semantic theory approach of Thosohiko Izutsu and the text, context, contextual theory of Abdullah Saeed to explain the values of nationalism in al-Qur'an through terms that are close to the meaning of the state, and nation such as balad, ummah, and syu‘ûbah.
Abstract: Abstract: This study is focused to explain the national issues in the potential for disintegration, and disorientation of the nation’s citizens through a study of interpretation with a starting point towards conceptual terms such as balad, syu‘ûbah, and ummah. This research used the maudhu‘i method with the structural semantic theory approach of Thosohiko Izutsu, and the text, context, contextual theory of Abdullah Saeed. This study aims to explain the values of nationalism in al-Qur’an through terms that are close to the meaning of the state, and nation such as balad, ummah, and syu‘ûbah. The result showed that the maintaining the security and welfare of the country is an important thing that have todo in order to build a peaceful, and prosperous nation’s civilization. Actualizing wasathiyah Islamic values, strengthening unity in diversity, and creating security, and prosperity for a nation is one of the concepts of defending the state to maintain the values of Indonesianalism which has a high level of diversity.Abstrak: Penelitian ini menjelaskan persoalan kebangsaan di tengah potensi disintegrasi dan disorientasi warga bangsa melalui studi tafsir dengan bertitik tolak pada term konseptual seperti balad, syu‘ûbah dan ummah. Penelitian ini menggunakan metode maudhu‘i dengan pendekatan teori semantik struktural Thosohiko Izutsu dan teori teks, konteks, kontekstual Abdullah Saeed. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai nasionalisme yang tercantum di dalam al-Qur’an melalui term yang dekat dengan makna negara dan bangsa seperti balad, ummah, dan syu‘ûbah. Hasilnya mempertahankan keamanan dan kesejahteraan negara merupakan hal penting yang harus dipertahankan untuk membangun peradaban bangsa yang tenteram dan makmur. Mengaktualisasikan nilai-nilai Islam wasathiyah, memperkuat persatuan dalam kebhinekaan, dan menciptakan keamanan dan kesejahteraan sebuah bangsa merupakan salah satu konsep bela negara untuk mempertahankan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi.Keywords: nationalism, state defense, Nusantara Qur’anic interpretation